PENTINGKAH ASI UNTUK BAYI?

PENTINGKAH ASI UNTUK BAYI?

     Berdasarkan jumlah kuantitatif komposisi protein, ASI hanya unggul pada lactoferin dan IgA (Immunoglobulin A). Maka dari itu, Air Susu Ibu (ASI) tidak sepenuhnya lebih rendah jika dibandikan jenis susu lain. Laktoferin merupakan protein yang bersifat antimikroba dan antivirus, oleh karena itu susu berlaktoferin tinggi dapat berpotensi sebagai pangan kesehatan dan pengobatan (Sumantri, 2006). Dari sini sudah dapat dikatakan bahwa susu sapi dan susu formula kalah dengan ASI. Laktoferin juga memiliki beberapa peran dalam regulasi besi di tempat peradangan dan infeksi dan penyerapan zat besi adalah bagian penting dari perannya baik sebagai antioksidan dan agen antimicrobial (Praba, 2015).

     Lacoferrin akan diserap pada usus ketika tubuh kekurangan zat besi. Hal ini menandakan bahwa bayi haruslah diberi ASI agar kebutuhan zat besi dalam tubuh terpenuhi. Kemudian lactoferin akan disimpan dalam hati dan akan disekresikan jika terjadi luka atau peradangan. Sifat bakteriostatik laktoferin berhubungan dengan afinitas pengikat besi yang tinggi, yang mampu mengikat besi dari lingkungan mikroorganisme. Besi merupakan nutrien penting untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri karena Fe sendiri mempunyai peran utama  penting sebagai pendistribusi oksigen keselurrh tubuh. Laktoferin mempunyai peranan penting dalam pengikatan Fe di mukosa usus dan beraksi sebagai agen bakteriostatik dengan mengikat Fe yang berasal dari Fe yang diperlukan untuk pertumbuhan bakteri (Mumpunie, 2011). Laktoferin mengikat besi pada daerah infeksi, yang merupakan ion penting untuk pertumbuhan bakteri, sehingga menimbulkan efek bakteriostatik. Laktoferin berinteraksi langsung pada beberapa bakteri, virus, fungi, dan permukaan parasit yang akan menyebabkan sel lisis atau efek bakteriosid (Praba, 2015).

     Lactoferrin juga sebagai reseptor, laktoferin memasuki tubuh melalui mukosa usus baik secara langsung melalui sel atau melalui reseptor laktoferin. Setelah lewat, Lf bereaksi dengan reseptor rantai proteoglikan pada sel imun seperti makrofag, monosit, dan sel dendritik.Ini meningkatkan proliferasi sel imun dan produksi sitokin melalui sitokin seperti IL-18 dan IFN-y untuk meningkatkan aktivitas, sitotoksisitas dan kelimpahan sel NK, sel T sitotoksik, dan makrofag (Gibbons, 2011). Peningkatan kekebalan ini meningkatkan pengawasan dan potensi untuk menghilangkan sel-sel ganas dan menyebabkan kematian sel.

     Komponen protein lain yang terdapat pada Air Susu Ibu dan sedikit terkandung dalam susu lainnya adalah Immunoglobulin A atau IgA. IgA adalah molekul glikoprotein yang berfungsi sebagai antibodi dan garis pertahanan pertama terhadap berbagai macam patogen yang masuk ke dalam tubuh (Dawley & Sapulete, 2015).  IgA berperan dalam memblokade reseptor epitel (misalnya dengan mengikat ligan mereka pada bakteri patogen), yang menghambat perlekatan bakteri patogen pada sel epitel. Selain itu suatu proses aglutinasi antigen polivalen atau ikatan patogen dengan antibodi, akan menjebak bakteri patogen dalam lapisan lendir. Rantai oligosakarida dari komponen IgA juga dapat berikatan dengan lapisan lendir yang terdapat dipermukaan sel epitel, sehingga bakteri patogen tidak bisa melekat pada permukaan epitel (Hayati, M., Herman, H., & Rezano, 2014). Berdasarkan data yang didapatkan susu formula  dan susu sapi mempunyai kandungan protein yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan ASI. Protein pada ASI sebagian besar adalah protein whey sedangkan pada susu formula adalah kasein. Kandungan kasein yang lebih tinggi akan membentuk gumpalan yang relatif keras dalam lambung bayi sehingga sulit dicerna bila bayi diberi susu formula, sedangkan ASI meskipun mengandung total protein yang lebih sedikit namun kandungan whey nya yang lebih banyak akan membentuk gumpalan lunak yang lebih mudah dicerna oleh usus bayi (Yusdita, 2015).

     Sumber mengatakan bahwa beberapa protein whey beta lactoglobulin merupakan penyebab alergen paling kuat (Safri, 2008). Sehingga, lebih bernung mengonsumsi air susu ibu jika dibandingkan dengan susu lainnya sumber yang sama mengatakan bahwa kandungan alfa-lactalbumin juga memang menimbulkan alergi namun kandungan pada ASI sangatlah sedikit jika disbanding dengan beta lactoglobulin, maka potensi alergi pada bayi juga akan menurun. Alergi pada bayi disebabkan karena ketidak mampuan tubuh bayi dalam mengolah beta lactoglobulin atau alfa-lactalbumin pada tubuh yang disebabkan karena masih belum mature-nya sistem pencernaan pada bayi.

     Dampak yang ditimbulkan dari tidak diberinya air susu ibu tidaklah kecil, namun berdampak pada masa depan bagi seorang bayi. Juga dapat dikatakan dampak ini berhubungan dengan nyawa dari bayi tersebut. Berdasarkan pemaparan sebelumnya, sistem pertahanan tubuh disuplay dari air susu ibu, sedangkan susu lain tidak dapat menyupai itu. Maka, dapat dikatakan bahwa bayi yang tidak menerima air susu ibu ataupun yang hanya menerima sedikit air susu ibu, kesehatannya dapat terganggu. Bahkan jika kesehatan yang terganggu cukup parah, diare saja misalnya, bayi dapat meninggal karena kekurangan cairan. Dari sini sudah cukup jelas bahwa air susu ibu merupakan salah satu kunci kehidupan bagi seorang bayi. Bayi yang meminum air susu ibu juga mungkinkan besar terhindar dari obesitas jika dibandingkan dengan meminum susu jenis lain (Fitri, Chundrayetti, & Semiarty, 2014). Sumber lain juga mengatakan bahwa terdapat hubungan antara penyusuan bayi dengan Aair susu ibu secara ekslusif (12 bulan) jika dibandingkan dengan yang tidak (Said & Pratomo, 2013). (EAA/1820)

 

Dawley, S., & Sapulete, I. M. (2015). Kajian terhadap kadar imunoglobulin a (iga) serum yang diinduksi olahraga pada pagi hari. Jurnal E-Biomedik (EBm), 3(2), 1–4. Retrieved from http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/egigi/article/viewFile/3228/2772

Fitri, D. I., Chundrayetti, E., & Semiarty, R. (2014). Hubungan pemberian asi dengan tumbuh kembang bayi umur 6 bulan di puskesmas nanggalo. Jurnal Kesehatan Andalas, 3(2), 136–140. https://doi.org/10.1111/ases.12406

Gibbons, J. A. (2011). Lactoferrin and cancer in different cancer models. Frontiers in Bioscience, S3(1), 1080. https://doi.org/10.2741/212

Hayati, M., Herman, H., & Rezano, A. (2014). Peran imunoglobulin a (siga) dalam menghambat pembentukan biofilm streptokokus mutans pada permukaan gigi. Dental Journal, 18(2), 199–203. Retrieved from https://jurnal.usu.ac.id/index.php/dentika/article/view/18251

Mumpunie, G. E. (2011). Identifikasi keragaman gen laktoferin ( ltf ecori ) pada sapi friesian holstein di bib lembang , bbib singosari dan bet cipelan (Institut Pertanian Bogor). Retrieved from http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/48104

Praba, F. W. . B. D. dan R. (2015). Proses penyembuhan defek tulang (kajian pada tikus wistar dengan analisis histomorfometri). J Kedokteran Gigi6(1), 8–17. Retrieved from https://journal.ugm.ac.id/jkg/article/view/29928

Safri, M. (2008). Alergi susu sapi. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala, 8(1), 47–55. Retrieved from http://jurnal.unsyiah.ac.id/JKS/article/view/9428

Said, M., & Pratomo, H. (2013). Pendidikan ibu dan durasi pemberian air susu ibu dalam peningkatan kecerdasan siswa usia sekolah dasar. Kesmas: National Public Health Journal, (3), 169. https://doi.org/10.21109/kesmas.v0i0.395

Sumantri, C. (2006). Gen pengontrol produksi susu berkadar laktoferin. Wartazoa, 16(2), 72–81. Retrieved from http://medpub.litbang.pertanian.go.id/index.php/wartazoa/article/view/861/870

Yusdita, O. (2015). Perbandingan antara kandungan protein air susu ibu (asi) dengan susu formula untuk bayi usia 0-12 bulan yang beredar di pontianak. Tanjungpura University. Retrieved from http://jurnal.untan.ac.id/index.php/jfk/article/view/14452